Rencana Strategis Kementerian Perindustrian Tahun 2010-2014 ini telah ditetapkan oleh Menteri Perindustrian melalui Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 151 Tahun 2010. Ringkasan penjelasannya adalah sebagai berikut:

VISI

Visi Pembangunan Industri Nasional Jangka Panjang (2025) adalah Membawa Indonesia pada tahun 2025 untuk menjadi Negara Industri Tangguh Dunia yang bercirikan :

  1. Industri kelas dunia;
  2. PDB sektor Industri yang seimbang antara Pulau Jawa dan Luar Jawa;
  3. Teknologi menjadi ujung tombak pengembangan produk dan penciptaan pasar.

Untuk menuju Visi tersebut, dirumuskan Visi tahun 2020 yakni Tercapainya  Negara Industri Maju Baru sesuai dengan Deklarasi Bogor tahun 1995 antar para kepala Negara APEC. Sebagai Negara Industri Maju Baru, Indonesia harus mampu memenuhi beberapa kriteria dasar antara lain:

  1. Kemampuan tinggi untuk bersaing dengan Negara industri lainnya;
  2. Peranan dan kontribusi sektor industri tinggi bagi perekonomian nasional;
  3. Kemampuan seimbang  antara Industri Kecil Menengah dengan Industri Besar;
  4. Struktur industri yang kuat (pohon industri dalam dan lengkap, hulu dan hilir kuat, keterkaitan antar skala usaha industri kuat);
  5. Jasa industri yang tangguh.

Berdasarkan Visi tahun 2020, kemampuan Industri Nasional diharapkan mendapat pengakuan dunia internasional, dan mampu menjadi basis kekuatan ekonomi modern secara struktural, sekaligus wahana tumbuh-suburnya ekonomi yang berciri kerakyatan. Dalam mewujudkan Visi Kementerian Perindustrian tahun 2020, diperlukan upaya-upaya sistemik yang dijabarkan  ke dalam peta strategi yang mengakomodasi perspektif pemangku kepentingan  berupa pencapaian strategis (Strategic Outcomes) yaitu :

  1. Meningkatnya nilai tambah industri;
  2. Meningkatnya penguasaan pasar dalam dan luar negeri;
  3. Meningkatnya  kemampuan SDM Industri, R&D dan kewirausahaan;
  4. Meningkatnya penguasaan teknologi industri yang hemat energi dan ramah lingkungan;
  5. Lengkap dan menguatnya struktur industri;
  6. Tersebarnya pembangunan industri;
  7. Meningkatnya peran IKM terhadap PDB.

Visi tersebut di atas kemudian dijabarkan dalam visi lima tahun sampai dengan 2014 yakni Pemantapan daya saing basis industri manufaktur yang berkelanjutan serta terbangunnya pilar industri andalan masa depan.

MISI

Dalam rangka mewujudkan visi 2025 di atas, Kementerian Perindustrian sebagai institusi pembina Industri Nasional mengemban misi sebagai berikut:

  1. Menjadi wahana pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat;
  2. Menjadi dinamisator pertumbuhan ekonomi nasional;
  3. Menjadi pengganda kegiatan usaha produktif di sektor riil bagi masyarakat;
  4. Menjadi wahana (medium) untuk memajukan kemampuan teknologi nasional;
  5. Menjadi wahana penggerak bagi upaya modernisasi kehidupan dan wawasan budaya masyarakat;
  6. Menjadi salah satu pilar penopang penting bagi pertahanan negara dan penciptaan rasa aman masyarakat;
  7. Menjadi andalan pembangunan industri yang berkelanjutan melalui pengembangan dan pengelolaan sumber bahan baku terbarukan, pengelolaan lingkungan yang baik, serta memiliki rasa tanggung jawab sosial yang tinggi.

Sesuai dengan Visi tahun 2014 di atas, misi tersebut dijabarkan dalam misi lima tahun sampai dengan 2014 sebagai berikut:

  1. Mendorong peningkatan nilai tambah industri;
  2. Mendorong peningkatan penguasaan pasar domestik dan internasional;
  3. Mendorong peningkatan industri jasa pendukung;
  4. Memfasilitasi penguasaan teknologi industri;
  5. Memfasilitasi penguatan struktur industri;
  6. Mendorong penyebaran pembangunan industri ke luar pulau Jawa;
  7. Mendorong peningkatan peran IKM terhadap PDB.

KONDISI YANG DIHARAPKAN TAHUN 2010-2014

Kondisi yang harus dicapai pada tahun 2014 sebagai berikut:

  1. Terselesaikannya permasalahan yang menghambat, dan rampungnya program revitalisasi, konsolidasi, dan restrukturisasi industri yang terkena dampak krisis;
  2. Tumbuhnya industri yang mampu menciptakan lapangan kerja yang besar;
  3. Terolahnya potensi sumber daya alam daerah menjadi produk-produk olahan;
  4. Semakin meningkatnya daya saing industri berorientasi ekspor;
  5. Tumbuhnya industri-industri potensial yang akan menjadi kekuatan penggerak pertumbuhan industri di masa depan;
  6. Tumbuh berkembangnya IKM, khususnya industri menengah sekitar dua kali lebih cepat daripada industri kecil.

Keluaran jangka menengah yang diharapkan adalah :

  1. Besarnya kemampuan sektor industri untuk menyediakan lapangan kerja baru,
  2. Pulihnya industri yang terpuruk akibat krisis,
  3. Meningkatnya kemampuan daerah menghasilkan produk olahan,
  4. Menguatnya struktur industri, seiring dengan tumbuhnya industri penunjang,  komponen  dan bahan baku industri,
  5. Meningkatnya ekspor secara signifikan,
  6. Terbangunnya pilar-pilar industri masa depan,
  7. Semakin kuatnya keterkaitan antar skala-industri, dan seimbangnya sumbangan nilai tambah antara industri besar dan IKM.

TUJUAN

Pembangunan industri merupakan bagian dari pembangunan nasional, oleh sebab itu pembangunan industri harus diarahkan untuk menjadikan industri mampu memberikan sumbangan berarti bagi pembangunan ekonomi, sosial dan politik Indonesia. Pembangunan sektor industri, tidak hanya ditujukan untuk mengatasi permasalahan dan kelemahan di sektor industri yang disebabkan oleh melemahnya daya saing dan krisis global yang melanda dunia saat ini saja, melainkan juga harus mampu turut mengatasi permasalahan nasional, serta meletakkan dasar-dasar membangun industri andalan masa depan.

Secara kuantitatif peran industri ini harus tampak pada kontribusi sektor industri dalam Produk Domestik Bruto (PDB), baik kontribusi sektor industri secara keseluruhan maupun kontribusi setiap cabang industri. Dengan memperhatikan keenam kondisi yang diharapkan sebagaimana diuraikan pada Bagian E, maka dijabarkan Tujuan, Sasaran Strategis, Indikator Kinerja Utama, Sasaran Kuantitatif, Arah kebijakan dan Program. Sasaran strategis untuk mencapai tujuan adalah sebagai berikut:

Tujuan

Kokohnya basis industri manufaktur dan industri andalan masa depan menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

 
Sasaran Strategis I : Tingginya nilai tambah industri, dengan Indikator Kinerja Utama terdiri dari:
1. Laju pertumbuhan industri yang memberikan nilai tambah;
2. Kontribusi industri manufaktur terhadap PDB nasional.

Sasaran Strategis II: Tingginya penguasaan pasar dalam dan luar negeri, dengan Indikator Kinerja Utama:
1. Meningkatnya pangsa pasar ekspor produk dan jasa industri nasional.
2. Pangsa pasar produk industri nasional terhadap total permintaan di pasar dalam negeri.

Sasaran Strategis III: Kokohnya faktor-faktor penunjang pengembangan industri, dengan Indikator Kinerja Utama:
1. Tingkat produktivitas dan kemampuan SDM industri;
2. Indeks iklim industri Nasional.

Sasaran Strategis IV: Tingginya kemampuan inovasi dan penguasaan teknologi Industri, dengan Indikator Kinerja Utama:
1. Jumlah hasil penelitian dan pengembangan teknologi industri terapan inovatif;
2. Pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan oleh sektor industri.

Sasaran Strategis V: Kuat, lengkap dan dalamnya struktur industri, dengan indikator Kinerja Utama:
1. Tumbuhnya Industri Dasar Hulu  (Logam dan Kimia);
2. Tumbuhnya Industri Komponen automotive, elektronika dan permesinan;
3. Tumbuhnya Industri lainnya yang belum ada pada pohon industri.

 
Sasaran Strategis VI : Tersebarnya pembangunan industri, dengan Indikator Kinerja Utama :
1. Meningkatkan kontribusi manufaktur diluar pulau Jawa terhadap PDB nasional;
2. Jumlah Investasi baru industri jasa pendukung dan komponen industri yang menyerap banyak tenaga kerja.

Sasaran Strategis VII : Meningkatnya peran industri kecil dan menengah terhadap PDB, dengan Indikator Kinerja Utama :
1. Tumbuhnya industri kecil diatas pertumbuhan eknomi nasional;
2. Tumbuhnya industri menengah dua kali diatas industri kecil;
3. Meningkatnya jumlah output IKM yang menjadi “Out-Source” Industri Besar.

 

Untuk lebih lengkapnya, silahkan download dokumen Renstra di sini.